8 Penggalan Puisi Sapardi Djoko Damono di Hujan Bulan Juni

January 27, 2021
nullSarwono kerap menuliskan puisi cinta untuk sang kekasih, Pingkan. (Screenshot Hujan Bulan Juni)

Menonton film Hujan Bulan Juni membuat kita menengok kembali karya maestro pujangga Indonesia, Sapardi Djoko Damono yang meninggal pada 19 Juli 2020. Dalam film yang dibintangi Adipati Dolken sebagai Sarwono dan Velove Vexia sebagai Pingkan, kalimat-kalimat yang terucap dari kedua bintang utama ini terasa sangat indah. 

Bait-bait yang dituliskan Sarwono untuk Pingkan tak lain adalah puisi-puisi terkenal karya sang maestro. Berikut ini deretan puisi terkenal Sapardi yang dirangkum TrueID dari dalam film Hujan Bulan Juni

1. Angin dari bukit masuk lewat jendela matamu sehabis mengemas warna dan aroma bunga di terjal perbukitan sana. 

2. Kesepian adalah benang-benang halus ulat sutera yang perlahan-lahan lembar demi lembar mengurung orang sehingga ulat yang ada di dalamnya ingin segera melepaskan diri menjadi kupu-kupu. 

3. Bagaimana mungkin seseorang memiliki keinginan untuk mengurai kembali benang yang tak terkirakan jumlahnya dalam selembar saputangan yang ditenunnya sendiri. 

4. Bagaimana mungkin seseorang bisa mendadak terbebaskan dari jaringan benang yang susun bersusun silang menyilang timpa-menimpa dengan rapi di selembar saputangan  yang sudah bertahun-tahn lamanya ditenun dengan sabar oleh jari-jarinya sendiri, oleh kesunyiannya sendiri, oleh ketabahannya sendiri. 

nullPoster film Hujan Bulan Juni. (TrueID)

5. Aku Musafir yang sedang mencari air. Kamu sungai yang melata di bawah padang pasir. 

6. Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni. Dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu.

Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni. Dihapuskannya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu.

Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni. Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu.

7. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

8. Mencintai angin harus menjadi suit…
Mencintai air harus menjadi ricik...
Mencintai gunung harus menjadi terjal...
Mencintai api harus menjadi jilat...
Mencintai cakrawala harus menebas jarak...

Mencintaimu harus menjadi aku.

Ingin tahu lebih jauh penggalan puisi ini dan bagaimana Adipati Dolken membacakannya, simak langsung film ini dengan streaming tanpa berlangganan di TrueID. (Tya)

 

 


Artikel Terkait

Go Back To Home