Roberto Mancini, Antara Catenaccio dan Tikitalia

July 14, 2021

null

Sumber foto: Official Twitter Timnas Italia (https://twitter.com/azzurri)

Para pecinta Liga Inggris mungkin masih ingat momen ketika Roberto Mancini yang saat itu masih menjadi manajer Manchester City berseteru dengan bos Manchester United, Sir Alex Ferguson. Insiden yang terjadi sekitar tahun 2012 tersebut bahkan membuat keduanya nyaris adu jotos di pinggir lapangan. Mancini ketika bersama City memang dikenal sebagai sosok yang sedikit emosional, dan salah satunya terlihat ketika ia melakukan selebrasi sambil berlari merayakan gol Sergio Aguero yang mengakhiri penantian panjang The Citizen meraih trofi Liga Inggris.

Namun hal berbeda tampak jelas sembilan tahun kemudian, tepatnya pada 12 Juli 2021 dini hari WIB. Sosok yang kerap terlihat berapi-api dulu, kini tak bisa menahan tangisnya usai eksekusi penalti terakhir Inggris oleh Bukayo Saka berhasil digagalkan Gianluigi Donnarumma. Tidak ada lagi momen berlari atau selebrasi liar, Mancini justru memeluk para staf dan pemainnya sambil menangis haru. 

Memang, sang Allenatore kini telah berubah. Mancini tampak lebih ‘kalem’ di pinggir lapangan, tenang memberikan arahan bagi para pemainnya, tidak panik, yang hebatnya ikut mempengaruhi para pemainnya di lapangan. Tertinggal 0-1 lewat gol cepat Luke Shaw di final yang digelar di hadapan mayoritas suporter lawan, normalnya akan membuat tim dan pelatih manapun dilanda kepanikan. Namun Mancini berbeda, terlihat tetap santai dan pemainnya pun seolah meresponnya dengan permainan yang juga tenang, tetap rapi, tidak buru-buru hingga akhirnya mereka kembali menguasai laga dan sukses menyamakan kedudukan berkat kesabaran tersebut.

Saat ditunjuk pertama kali sebagai pelatih Italia, hampir tidak ada orang yang akan menyangka Gli Azzurri akan berubah luar biasa seperti saat ini. Maklum saja, di tahun 2018 Italia baru saja mengalami musibah besar dalam sepakbola mereka yaitu gagal lolos ke putaran final Piala Dunia Rusia. Mancini pun juga tidak punya banyak pilihan pemain berstatus bintang saat itu, hanya sosok-sosok tua yang tersisa.

---------

Video Rekomendasi: Tonton tingkah kocak Indro Warkop yang bikin ngakak 

---------

Tapi semua itu berubah di tangan Mancini. Tercatat, sejak tahun 2018 hingga kini atau sudah tiga tahun berlalu, Azzurri belum juga pernah merasakan satu kalipun kekalahan. 34 laga tanpa terkalahkan, jelas bukanlah suatu hasil yang biasa saja. Mancini juga sukses merubah wajah Italia, yang biasanya kental dengan permainan bertahan atau Cattenaccio menjadi lebih agresif, menguasai bola dan ia menyebutnya Tikitalia alias Tiki Taka ala Italia. 

“Spanyol menemukannya (tiki-taka), konsep itu mengantarkan mereka kepada kesuksesan luar biasa dan mereka melanjutkannya dengan bagus,” ujar Mancini soal permainan tiki-taka saat konferensi pers sebelum laga semifinal Euro 2020 lalu menghadapi Spanyol, Senin (5/7/2021). 

“Penguasaan bola kami agak berbeda. Kami orang Italia dan tak bisa mendadak menjadi Spanyol. Kami akan mencoba memainkan gaya kami,” tegasnya.

Italia juga tidak mengandalkan satu pemain bintang saja dalam tim. Bagi Mancini semua pemain sama dan hal itu juga diamini sang kapten, Leonardo Bonucci yang menurutnya sangat mempengaruhi tim.

“Kami tak punya pemain seperti Cristiano Ronaldo atau Romelu Lukaku. Bintang kami adalah tim,” ujar Leonardo Bonucci usai laga final lalu.

Ya, Roberto Mancini memang sukses merubah wajah Italia. Tidak ada lagi permainan yang hanya mengandalkan pertahanan grendel khas tim Negeri Pizza yang biasa kita lihat, semua berubah menjadi sepakbola indah yang mengandalkan permainan tim, penguasaan bola namun tetap memiliki lini belakang yang tangguh. 

Dengan segala hasil dan perubahan yang ia lakukan tersebut, Mancini pun rasanya layak dinobatkan sebagai pahlawan Italia bahkan menjadi salah satu pelatih terbaik di dunia saat ini. Tidak hanya mengakhiri penantian Juara Eropa yang terakhir Italia rasakan pada tahun 1968 lalu, kemenangan di Euro 2020 juga seolah melengkapi koleksi trofi yang sudah dimenangkan Mancini.

Sebelumnya, pelatih berusia 56 tahun ini sudah pernah merasakan trofi juara di Liga Inggris, Serie A bahkan sampai Piala Turki. Dan target selanjutnya, tentu saja akan sangat luar biasa jika Mancini bisa melanjutkan kesuksesan Italia tahun depan di Qatar, dengan menjuarai Piala Dunia.

Profil Singkat Roberto Mancini

Nama Lengkap: Roberto Mancini

Tempat/Tanggal Lahir: Lesi Italia, 27 November 1964

Posisi saat masih Bermain: Penyerang

Karir Kepelatihan:

2001-2002: Fiorentina

2002-2004: Lazio

2004-2008: Inter Milan

2008-2013: Manchester City

2013-2014: Galatasaray

2014-2016: Inter Milan

2017-2018: Zenit St Petersburg

2018-Sekarang: Timnas Italia

Prestasi Sebagai Pelatih:

Serie A (2005/06, 2006/07, 2007/08)

Premier League (2011/12)

Piala FA (2010/11)

Coppa Italia (2000/01, 2003/04, 2004/05,2005/06)

Piala Super Italia (2005,2006)

Community Shield (2012)

Piala Turki (2013/14)

Piala Eropa (2021) 

undefined

Timnas Italia sukses meraih gelar kedua Piala Eropa!

Baca Selengkapnya
Loading...
Loading...
Loading...
Go Back To Home