4 Tradisi dan Budaya Pesantren di Perempuan Berkalung Sorban

April 21, 2021

null

Poster Film Perempuan Berkalung Sorban. (TrueID)

Hanung Bramantyo tak hanya sukses menceritakan perjuangan Annisa (Revalina S. Temat ) dalam upaya menggapai keseteraan gender di sebuah pesantren konservatif di Jawa Timur. Dalam mengangkat cerita Perempuan Berkalung Sorban, film yang disadur dari buku dengan judul yang sama karya Abidah El Khalieqy, Hanung melakukan riset dengan detil tentang kehidupan pesantren khususnya Pulau Jawa. 

Beberapa tradisi dan budaya detil itu dituangkan dalam film ini. Beberapa di antara budaya itu sampai saat ini masih eksis. Apa saja itu, berikut tradisi yang dirangkum TrueID dalam film Perempuan Berkalung Sorban yang bisa Anda tonton tanpa perlu berlangganan.

1. Mencium tangan kiai

Di beberapa kesempatan, banyak murid Pesantren Al Huda selalu mencium tangan kiai yang mengajar mereka atau yang datang ke tempat mereka. Tradisi ini sudah lazim di pesantren meski ada pro dan kontra soal mencium tangan ini. Tapi, bagi para murid pesantren atau siapapun yang mengenal tradisi ini, mencium tangan seorang kiai diibaratkan “mengisi kembali energi” karena keilmuan yang mereka miliki.

null

Kakak Anissa saat mencium tangan seorang kiai besar yang mengunjung Pesantren Al-Huda. (TrueID)

2. Memakan makanan sisa di piring kiai

Dalam sebuah jamuan, seorang kiai biasanya diberikan makanan dengan tempat yang khusus. Terkadang jauh lebih besar agar kapasitasnya lebih banyak dan ini dilakukan karena makanan sisa mereka menjadi rebutan bagi para santri. Dalam bahasa Jawa, tradisi ini disebut “Ngalap Berkah” atau mencari berkah dari jejak seorang kiai termasuk dari makanannya. Dalam film Perempuan Berkalung Sorban, ada momen ketika seorang kiai besar (Piet Pagau) datang ke pesantren Al-Huda dan para santri berebut makanan sisa kiai.

null

Seorang santri maju ke depan para kiai demi memperebutkan sisa makanan di piring kiai besar. (TrueID)

3. Membalikkan sandal yang dipakai seorang kiai 

Satu tradisi yang jadi rebutan yakni merapihkan sandal kiai dan membalikkannya. Tradisi ini masih banyak ditemui di pesantren-pesantren di pulau Jawa. Tujuannya masih sama yakni mendapatkan berkah dari keilmuan seorang kiai seperti yang dilakukan Salman kepada Nabi Muhammad SAW. Salman setiap hari membalik sandal Rasulullah SAW ke arah luar pintu sampai satu waktu hal itu diketahui Rasulullah SAW. Lalu, Salman didoakan Rasulullah SAW menjadi orang yang berilmu dan ahli Al-Fiqh, dan doa itu terkabul saat Salman dewasa.

null

Seorang santri perempuan berhasil merebut sandal kiai besar yang hadir ke Pesantren Al-Huda dan membalikkannya ke arah berlawanan. (TrueID)

4. Merapihkan sandal jamaah masjid 

Budaya dan tradisi ini sebenarnya sudah ada sejak lama. Selain keberkahan yang dicari para santri tapi merapihkan sandal jamaah masjid memberi efisiensi waktu ketika bubar shalat berjamaah.

null

Di saat yang lain shalat, dua santri perempuan merapihkan sandal para jamaah di Masjid Al-Huda. (TrueID)

 


Artikel Terkait

Go Back To Home