Review Pintar-pintaran: Kadir dan Doyok Rela Bekerja Apapun

April 6, 2021

null

Film Pintar-pintaran mengisahkan perjalanan hidup Kadir dan Doyok mengadu nasib di Jakarta. Keduanya rela bekerja apa saja demi menaklukkan ibukota, walau mereka tidak mempunyai keahlian di bidang tersebut.

Berawal dari Kadir dan keponakannya, Doyok, yang bekerja sebagai penjahit. Akibat mengerjakan orderan jahit asal-asalan, Kadir dan Doyok kemudian dipecat. Keduanya lalu memutuskan untuk pindah ke Jakarta dan bekerja sebagai tukang sulap. Kadir mengirim surat kepada pamannya, Pak Nugroho (Kusno Sudjarwadi), perihal kedatangan mereka.

Karena ada urusan di luar kota, Pak Nugroho kemudian menitipkan pesan kepada anaknya, Mirna (Dian Nitami), agar hati-hati di rumah dan selalu menjaga diri. Saat itu Mirna tinggal di rumah bersama temannya, Helen (Nia Zulkarnaen). Kemudian, datanglah Kadir dan Doyok yang bermaksud ingin bertemu Pak Nugroho. Merasa curiga, Mirna menyuruh Kadir dan Doyok untuk menunjukkan kemampuan bermain sulap.

Atraksi sulap Kadir dan Doyok justru menjadi senjata makan tuan. Kadir dan Doyok tidak bisa melepaskan diri dari borgol sampai Pak Nugroho tiba di rumah keesokan harinya. Hari itu juga, keduanya ditawari bekerja sebagai salesman mesin penyedot debu raksasa.

Kadir dan Doyok di pekerjaan baru ini bertugas menjajakan produk mereka di dalam hotel. Ketika melakukan demo penggunaan mesin, yang terjadi malah kehebohan di dalam hotel yang mengganggu para tamu. Manajemen hotel pun meminta ganti rugi kepada Kadir dan Doyok. 

null

Mengingat tidak punya uang untuk membayar ganti rugi, mereka berdua terpaksa beralih profesi lagi menjadi koki di restoran hotel tersebut. Lagi-lagi, Kadir dan Doyok berbuat ulah yang mengusik para pengunjung restoran sehingga manajemen hotel memindahkan tugas mereka ke bagian lain. Kadir menerima dan mengarahkan tamu ke kamar, sedangkan Doyok menjadi teknisi.

Ketidakberesan Kadir dan Doyok saat bekerja di hotel membuat Mirna menawarkan keduanya jadi tukang cat. Sebelum itu, keduanya sempat diajak berlibur oleh Mirna dan Helen ketika Pak Nugroho sedang pergi ke luar kota beberapa hari.

Dalam perjalanan, rombongan Mirna menyempatkan diri makan di sebuah warung sate yang dimiliki oleh Abud (Fuad Alkhar). Mereka sempat kebingungan apakah benar sate yang dimakan itu sate kambing, atau malah sate anjing. 

Di saat yang lain, mobil Mirna yang disupiri oleh Doyok mogok. Doyok bertemu dengan Pak Tile yang saat itu sedang menjaga ternak bebek-bebeknya. Pak Tile menyarankan mereka untuk beristirahat di stasiun yang sudah lama tak beroperasi karena tidak ada penginapan di sana. Suasana kocak muncul di sana karena setiap kereta api lewat pasti terjadi guncangan hebat yang mengganggu tidur mereka.

Gagal liburan, rombongan Mirna pun pulang ke rumah. Rupanya, ayah Mirna pulang lebih cepat dari rencana. Mirna kemudian meminta tolong kepada Kadir agar bertanggung jawab.

Keesokan harinya, Kadir dan Doyok mulai bekerja sebagai tukang cat. Proyek mereka adalah mengecat gedung yang sedang direnovasi. Tak disangka, gedung itu lagi digunakan untuk acara syukuran pengangkatan Pak Hadi (Robert Syarif) sebagai pimpinan baru sebuah bank.

Akankah Kadir dan Doyok mampu menyelesaikan pekerjaannya sebagai tukang cat? Atau, mereka justru membuat acara syukuran bank menjadi kacau balau?

Film Pintar-pintaran garapan sutradara Yazman Yazid ini menarik ditonton karena menyuguhkan aksi Kadir dan Doyok yang melakukan berbagai pekerjaan yang tak mereka kuasai. Namun ketidakmampuan keduanya itu justru memberi kelucuan tersendiri sepanjang film. Film ini tentu membuka mata banyak orang, terutama yang mau mencari nafkah di manapun haruslah mempunyai keahlian atau minimal wajib mempelajari hal-hal baru. (Adi)

 

 


Artikel Terkait

Go Back To Home